Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Pengertian Iuran Pertanggungan Syariah

Pengertian Iuran Pertanggungan Syariah

Pengertian Asuransi Syariah

Pengertian Asuransi Syariah & Perbedaannya dengan Asuransi Konvensional

Saat ini, terdapat banyak jenis & manfaat yg ditawarkan oleh premi, pada mana setiap perusahaan premi mempunyai majemuk fitur & keunggulan dalam masing-masing produk yg mereka keluarkan. Tetapi menjadi calon pengguna, maka telah sewajarnya apabila kita memahami dan mengenal dengan baik iuran pertanggungan yang akan kita pilih dan gunakan. Hal ini akan membantu kita buat mendapatkan manfaat & laba yang maksimalatas penggunaan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, iuran pertanggungan syariah menjadi keliru satu produk asuransi yg banyak dibicarakan dalam kalangan masyarakat. Asuransi ini hadir untuk memenuhi kepentingan & hasrat poly orang yang mengharapkan adanya sebuah produk premi yang halal & sesuai menggunakan ketentuan syariah.

Menurut Dewan Syariah Nasional, iuran pertanggungan syariah merupakan sebuah bisnis buat saling melindungi & saling tolong menolong pada antara sejumlah orang, pada mana hal ini dilakukan melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang menaruh pola pengembalian buat menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yg sinkron dengan syariah. Dalam iuran pertanggungan syariah, diberlakukan sebuah sistem, pada mana para peserta akan menghibahkan sebagian atau semua kontribusiyg akan dipakai untuk membayar klaim bila terdapat peserta yang mengalami musibah. Dengan istilah lain mampu dikatakan bahwa, di dalam premi syariah, peranan dari perusahaan iuran pertanggungan hanyalah sebatas pengelolaan operasional dan investasi dari sejumlah dana yg diterima saja.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Dalam perkembangannya, asuransi syariah mempunyai banyak keunggulan & kelebihan jika dibandingkan menggunakan iuran pertanggungan konvensional. Hal ini tentu saja menciptakan adanya disparitas mendasar di antara ke 2 jenis premi tersebut. Berikut ini merupakan disparitas yg masih ada pada antara asuransi syariah dan premi konvensional:

1.       Pengelolaan Risiko

Pada dasarnya, dalam asuransi syariah sekumpulan orang akan saling membantu dan tolong menolong, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana bantuan gratis (tabarru). Dengan begitu mampu dikatakan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan pada pada iuran pertanggungan syariah merupakan memakai prinsip sharing of risk, di mana risiko dibebankan/dibagi kepada perusahaan & peserta asuransi itu sendiri.

Sedangkan di dalam iuran pertanggungan konvensional berlaku sistem transfer of risk, pada mana resiko dipindahkan/ dibebankan sang tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan premi yg bertindak sebagi penanggung di pada perjanjian iuran pertanggungan tersebut.

2.       Pengelolaan Dana

Pengelolaan dana yg dilakukan di pada premi syariah bersifat transparan & dipergunakan sebesar-besarnya buat mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri.

Di pada asuransi konvensional, perusahaan premi akan menentukan jumlah besaran iuran pertanggungan dan aneka macam biayalainnya yang ditujukan buat menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri.

3.       Sistem Perjanjian

Di dalam asuransi syariah hanya digunakan akad bantuan gratis (tabarru) yang berdasarkan pada sistem syariah dan dipastikan halal. Sedangkan pada dalam iuran pertanggungan konvensional akad yg dilakukan cenderung sama menggunakan perjanjian jual beli.

4.       Kepemilikan Dana

 Sesuai menggunakan akad yang digunakan, maka di dalam asuransi syariah dana iuran pertanggungan tersebut adalah milik beserta (seluruh peserta asuransi), di mana perusahaan iuran pertanggungan hanya bertindak sebagai pengelola dana saja. Hal ini tidak berlaku pada pada iuran pertanggungan konvensional, lantaran premi yang dibayarkan pada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan iuran pertanggungan tersebut, yg mana pada hal ini perusahaan asuransi akan mempunyai kewenangan penuh terhadap pengelolaan & pengalokasian dana asuransi.

5.       Pembagian Keuntungan

 Di dalam asuransi syariah, seluruh laba yang dihasilkan sang perusahaan terkait menggunakan dana iuran pertanggungan, akan dibagikan kepada seluruh peserta asuransi  tersebut. Tetapi akan tidak sama menggunakan perusahaan asuransi konvensional, pada mana semua laba yg dihasilkan akan sebagai hak milik perusahaan iuran pertanggungan tadi.

Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya buat membayar zakat yg jumlahnya akan disesuaikan dengan besarnya keuntungan yg didapatkan oleh perusahaan. Hal ini nir berlaku di pada asuransi konvensional.

7.       Klaim dan Layanan

Di dalam premi syariah, peserta bisa memanfaatkan perlindungan porto rawat inap pada rumah sakit buat semua anggota famili. Di sini diterapkan sistem penggunaan kartu (cashless) & membayar seluruh tagihan yang muncul.

Satu polis asuransi digunakan buat semua anggota keluarga, sehingga premi yang dikenakan sang iuran pertanggungan syariah pula akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku pada premi konvensional, pada mana setiap orang akan memiliki polis sendiri & asuransi yang dikenakan tentu akan lebih tinggi.

Asuransi syariah juga memungkinkan kita buat sanggup melakukan double claim, sebagai akibatnya kita akan permanen menerima klaim yg kita ajukan meskipun kita telah mendapatkannya melalui asuransi kita yang lain.

Di dalam iuran pertanggungan syariah, pengawasan dilakukan secara ketat & dilaksanakan sang Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibentuk langsung sang Majelis Ulama Indonesia (MUI) & diberi tugas buat mengawasi segala bentuk aplikasi prinsip ekonomi syariah pada Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yg mengaturnya. Di setiap lembaga keuangan syariah, harus terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yg bertugas menjadi pengawas. DPS ini adalah perwakilan menurut DSN yg bertugas memastikan lembaga tersebut sudah menerapkan prinsip syariah secara benar.

DSN inilah yang lalu bertugas buat melakukan supervisi terhadap segala bentuk operasional yg dijalankan di pada asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan sang peserta premi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram. Hal ini akan dicermati berdasarkan berasal & sumber harta tadi serta manfaat yg dihasilkan olehnya.

Berbeda halnya dengan premi konvensional, pada mana asal menurut objek yg diasuransikan tidaklah sebagai sebuah masalah, karena yang dicermati sang perusahaan merupakan nilai & asuransi yang akan ditetapkan pada perjanjian asuransi tadi.

9.       Instrumen Investasi

 Hal ini pula sebagai sebuah disparitas yang akbar pada iuran pertanggungan syariah & konvensional. Di pada premi syariah, investasi nir mampu dilakukan pada banyak sekali aktivitas bisnis yg bertentangan menggunakan prinsip syariah dan mengandung unsur haram pada kegiatannya. Yang termasuk dalam aktivitas ini adalah:

Perjudian dan permainan yang tergolong ke dalam judi. Perdagangan yg tidak boleh berdasarkan syariah, diantaranya: perdagangan yang tidak disertai menggunakan penyerahan barang/jasa, & perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu. Jasa keuangan ribawi, diantaranya: bank berbasis bunga, dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga. Jual beli risiko yg mengandung unsur ketidakpastian (gharar) & / atau judi (maisir).

 Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan aneka macam barang, seperti: barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan lantaran zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan sang DSN-MUI. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

Ketentuan seperti ini tentu saja nir berlaku pada dalam asuransi konvensional, lantaran pada dasarnya pada pada premi   konvensional perusahaan akan melakukan banyak sekali macam investasi pada banyak sekali instrumen yg ditujukan buat mendatangkan keuntungan yg sebesar-besarnya bagi perusahaan. Hal ini sanggup dilakukan tanpa memakai/mempertimbangkan haram atau tidaknya instrumen investasi yang dipilih, lantaran pada dasarnya di dalam premi konvensional dana yang dilekola merupakan benar-sahih dana milik perusahaan dan bukan milik pemegang polis iuran pertanggungan, menggunakan begitu perusahaan mempunyai wewenang penuh dalam penggunaan dana tadi, termasuk dalam menentukan jenis investasi yang akan dipakai.

Di pada beberapa jenis iuran pertanggungan yg dikeluarkan oleh perusahaan iuran pertanggungan konvensional, kita mengenal kata “dana hangus” yang mana hal ini terjadi dalam iuran pertanggungan yg tidak dianggap (contohnya iuran pertanggungan jiwa yang pemegang polisnya nir meninggal dunia hingga masa pertanggungan berakhir). Tetapi hal misalnya ini nir berlaku pada dalam iuran pertanggungan syariah, karena dana tetap bisa diambil meskipun ada sebagian mini yang diikhlaskan.

Post a Comment for "Pengertian Iuran Pertanggungan Syariah"